SARA

Prolog:
Yu bercerita tentang tetangganya yang bekerja sebagai TKI, dan menyebutkan batasan umur untuk bisa mendaftar jadi TKI.

Lintang : Berarti aku masih bisa daftar ya Mas? *karna umur belum lewat batas*
Yu : Kayaknya ga bisa.
Lintang : Lho, kan umurku masih masuk.
Yu : Tapi kalau ada tes tinggi badan pasti kamu gak lulus.
Lintang : wek… :p Kalau gitu Mas juga ga memenuhi syarat.
Yu : Kenapa?
Lintang : Kan ada tes berat badan maksimal, pasti Mas gak memenuhi syarat :D
Yu : hahahahaha….

Obrolan ga jelas dan berbau SARA. Tidak romantis, huh…

Add comment Juli 4, 2009

Lapar

One day, almost bed time at night…

Mas : Laper gak, Lin?
Lintang : Enggak. Kenapa, Mas laper?
Mas : Enggak. Kalo Lin laper, bikin milo aja, ada roti tuh.
Lintang : Lagi gak pengen. Mmm… Mas mau Lin buatin milo?
Mas : Mauu… *menjawab dengan cepat*
Lintang : huuu… padune yang lapar Mas to, xixixi…

Cintaaaaa……….. apa sih yang enggak untuk kamu, hmmm…. ?

Add comment Juli 4, 2009

menjelang libur

liburan ke mana? mudik, ke rumah sodara-sodara, ketemu teman-teman
persiapan udah beres? beloooommmm…. >_<

Add comment Desember 23, 2008

Diproteksi: percobaan

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Masukkan kata sandi anda untuk melihat tanggapan April 22, 2008

gak usah dikasi judul

Hampir sebulan di sini, saya masih belum hafal jalan juga! hix… Kecuali rute berangkat-pulang kerja (kalau yang ini gak hafal, berabe kan?). Solusi sementara, saya mengajak teman sebagai penunjuk jalan, hehehe….
Padahal saya sudah punya peta, bahkan saya beli sebelum saya datang ke sini. Bagi saya, punya peta aja tanpa pernah mencermatinya, melewati jalan-jalannya, nggak bakal deh bisa apal. Nah, kesempatan untuk ‘tour de city’ ini yang rasanya belum saya manfaatkan secara maksimal. Rasa malas lebih mendominasi, karena hujanlah, capeklah, atau alasan-alasan lain yang (mungkin) kurang bermutu. Lah kalau gini terus, kapan bisa apalnya? :D

3 comments Maret 4, 2008

Dua Manusia Super

Kejadian ini patut untuk direnungkan (copy dari email yg diterima).

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi untuk coba taklukkan ibukota negri ini. Semoga kita selalu diingatkan.

Sekedar berbagi cerita di forum tercinta hari ini:

Siang awal Februari 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk-mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.

Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan. Dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Oom!”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki-laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan. Laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

“Terima kasih ya Mbak. Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka.

Tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

” Maaf, nggak ada kembaliannya… Ada uang pas nggak Mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut.

Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

“Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka.

Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

” Nggak punya, tukas saya!”

Lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, Dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya ke genggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi.

Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa-apa ambil saja!”.

Namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!”

Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya.

Mereka menghampiri saya dan berujar “Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”.

“Eeh… nggak usah… nggak usah… biar aja… nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu… sebentar.”

“Nggak apa-apa, itu buat kalian” lanjut saya.

“Jangan… jangan Om, itu uang Om sama mbak yang tadi juga,” anak itu bersikeras.

“Sudah… saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya.

“Ini deh Om, kalau kelamaan, maaf…” ia memberi saya delapan pack tissue “Buat apa?” saya terbengong.

“Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu,” walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana , sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

“Terima kasih Om!”
Mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup-sayup terdengar percakapan
“Duit mbak tadi gimana…?”
Suara kecil yang lain menyahut “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…” percakapan itu sayup-sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan.

Tuhan… hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukkan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain.

“Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak.”

Add comment Februari 29, 2008

Pilkades oh Pilkades

-Jumat-
Yu : Besok ada pilkades, aku mau ke sana.
Lintang : Lho, bukannya taun lalu udah pilihan?
Yu : Ini di desa tetangga.
Lintang : Trus ngapain ikut ke sana? Emang jadi panitia?
Yu : Aku sering maen ke sana. Ya ikut bantu-bantu.
Lintang : … *nggak ngerti, knapa Yu niat banget*

-Sabtu-
Yu : Nanti siang mau liat penghitungan suara.
Lintang : Sampe jam berapa?
Yu : Ya nggak tau. Trus ntar malam melekan.
Lintang : Apa sih asyiknya?
Yu : Pasti ada intrik-intriknya
Lintang : Walah… emang apa menariknya?
Yu : Seru.
Lintang : … *tetep nggak ngerti di mana asiknya*
Yu : Apalagi nanti malam, pasti gayeng.
Lintang : Mau ikut melekan?
Yu : Iya.
Lintang : Katanya masih ngantuk? Piye to?
Yu : Kalau nanti malam kan lebih seru. Evaluasi, trus ini… itu… blabla…
Lintang : … *ora mudeng, kenapa Yu semangat banged*

-Minggu, otw pulang-
Sepanjang perjalanan, Yu asik banget ngobrol ama temennya soal pilkades kemaren. Lintang dicuekin. Sebel……
Sekalinya Yu tanya, Lintang jawab, eh… ga didengerin serius. Wuaaa…. tambah sebelll… Iya deh, emang Lintang ga ngerti sama sekali tentang politik dan semacamnya. Tapi kenapa sih waktu yang cuma sedikit itu, yang enggak selalu ada, habis untuk ‘dunia’ Yu.

2 comments Februari 4, 2008

Previous Posts


kategori

Arsip

Komentar Terakhir

yulita di yuhuuu…
Eko Nurhadi di yuhuuu…
lintang di puisi cinta
agoezi di puisi cinta
lintang di puisi cinta

Blogroll

warna-warni blog

Meta

Spam Blocked

Blog Stats

friends are flowers that never fade