Posts filed under 'Lintang & cerita'
Pilkades oh Pilkades
-Jumat-
Yu : Besok ada pilkades, aku mau ke sana.
Lintang : Lho, bukannya taun lalu udah pilihan?
Yu : Ini di desa tetangga.
Lintang : Trus ngapain ikut ke sana? Emang jadi panitia?
Yu : Aku sering maen ke sana. Ya ikut bantu-bantu.
Lintang : … *nggak ngerti, knapa Yu niat banget*
-Sabtu-
Yu : Nanti siang mau liat penghitungan suara.
Lintang : Sampe jam berapa?
Yu : Ya nggak tau. Trus ntar malam melekan.
Lintang : Apa sih asyiknya?
Yu : Pasti ada intrik-intriknya
Lintang : Walah… emang apa menariknya?
Yu : Seru.
Lintang : … *tetep nggak ngerti di mana asiknya*
Yu : Apalagi nanti malam, pasti gayeng.
Lintang : Mau ikut melekan?
Yu : Iya.
Lintang : Katanya masih ngantuk? Piye to?
Yu : Kalau nanti malam kan lebih seru. Evaluasi, trus ini… itu… blabla…
Lintang : … *ora mudeng, kenapa Yu semangat banged*
-Minggu, otw pulang-
Sepanjang perjalanan, Yu asik banget ngobrol ama temennya soal pilkades kemaren. Lintang dicuekin. Sebel……
Sekalinya Yu tanya, Lintang jawab, eh… ga didengerin serius. Wuaaa…. tambah sebelll… Iya deh, emang Lintang ga ngerti sama sekali tentang politik dan semacamnya. Tapi kenapa sih waktu yang cuma sedikit itu, yang enggak selalu ada, habis untuk ‘dunia’ Yu.
2 comments Februari 4, 2008
jatuh
Aq tadi glundung, ke sawah, lewat jalan pintas jalan tanah, licin
(sms masuk pukul 13.34)
Wuaaa? Jatuh ke sawah? Duh, baca sms itu tuh jadi sedih, khawatir, tapi juga geli.
Luka?
Gak, tapi jadi kotor semua.
Yang nolong siapa?
Ada petani.
Kok bisa jatuh ke sawah?
Lewat jalan pintas, salah belok, malah ke sawah-sawah, trus jalannya licin, hilang keseimbangan, eeeh…. nyemplung sawah. Diketawain orang.
Wekekekeke…. pasti lucu tuh ya, kalo direkam.
Hehehehe…
Add comment November 16, 2007
tebu
Dulu, perumahan tempat saya tinggal masih dikelilingi daerah persawahan. Sering ada truk lewat, mengangkut tebu. Jika kebetulan kami; saya dan teman-teman bermain; berpapasan dengan truk-truk itu, kami sering minta tebu sebatang dua batang ![]()
“Pak, nyuwun tebune!”
“Kula nyuwun tebune, Pak!”
Seperti itulah kira-kira kami ramai-ramai berteriak. Eh, tapi… saya tak pernah ikut teriak-teriak. Saya hanya melihat saja. Wekekekeke…. sok jaim banget yak.
Setelah mendapatkan apa yang kami minta, maka kami akan mengupas tebu itu dan memakannya ramai-ramai. Memakan? Hmmm… menyesap-nyesap mungkin lebih pas ya. Dan untuk kegiatan ini pun saya tidak turut serta, lagi-lagi hanya melihat.
Kenapa saya nggak ikut minta tebu dan menikmatinya? Mungkin ini alasannya:
- Saya malu ikutan minta-minta. Kalau pengen apa-apa, minta ke orang tua, jangan minta ke orang lain. Begitu yang selalu ibu dan ayah saya bilang.
- Saya tidak terlalu tertarik menyesap tebu bersama teman-teman. Apa saya tidak suka tebu? Suka kok. Jadi, kenapa? Alasannya sepele, saya ga bisa mengunyah-ngunyah tebu kalau tidak dipotong kecil-kecil banget. Dan teman-teman itu ga ada yg motongnya kecil-kecil. Mereka sih asik aja, tapi saya emang ga bisa
Untuk motong sendiri, malas, hihihi…
Alasan kedua, simbah saya menanam tebu di halaman rumahnya, jadi cukuplah saya ‘melatih gigi’ ketika berkunjung ke sana. Mulai dari tebu muda sampe yang sudah sangat keras pernah saya coba, dan selalu dalam potongan kecil-kecil
Kok gak malas motong-motongnya? Lhaa… wong bukan saya sendiri kok, yang mengupas dan memotong. Saya tinggal terima bentuk siap santapnya aja ^_^
Add comment Oktober 8, 2007
panjat pohon
Daftar pohon yang pernah saya panjat:
ketela pohon (yg gede, ketelanya ga bisa dimakan)
pohon jambu air
pohon jambu biji
pohon jambu klutuk
pohon mangga
pohon talok/ kers/ kersen/ apaan tuh ya, namanya?
pohon pepaya
pohon belimbing
pohon belimbing wuluh
pohon kelapa (ga sampai puncak karena jarak antar ceruknya terlalu jauh utk jangkauan kaki saya)
hmm… ada yg kelewat gak ya?
Hobi panjat pohon itu hanya berlangsung semasa saya masih kecil. Ketika sudah besar, bapak saya bilang, “Cah wedok kok penek’an.”
2 comments Agustus 31, 2007
ingin pandai menggambar
Saya ingin pandai menggambar. Semasa kecil, saya terkagum-kagum dengan pak Tino Sidin. Tiap kali acara beliau tayang di televisi, saya setia menontonnya dari awal hingga akhir. Setiap kiriman gambar, selalu dikomentari ‘bagus’ ^_^ .
Kalau ada teman yang hasil gambarnya bagus, saya selalu kagum dengan teman tersebut. Makan apa ya, bisa menggambar sebagus itu? hehehe…
Kelas 1 SMP, teman sebangku saya pandai menggambar (tulisannya rapih pula sehingga dijadikan sekretaris kelas). Jaman itu pula, saya mulai termehek-mehek dengan manga (komik jepang), dan mimpi bisa jadi artis manga, ayayayaya…. mimpi kali yee… Akhirnya saya keranjingan corat-coret meski hasilnya jauh dari bagus :p
Bertahun-tahun kemudian, kemampuan saya tidak bertambah, hahahaha… parah deh. Kalau menyontek sih, bisalah. Tapi untuk create sendiri, walah, tak pernah berhasil. Ketika terbit buku ‘How to Draw Manga’, dengan semangat saya membelinya. Ceritanya mau mewujudkan impian masa lalu nih. Hari demi hari, ternyata buku itu pun tak berguna, karena saya malas berlatih. Lha trus bukunya untuk apa? Ya untuk saya baca, tapi tanpa praktek. Seneng aja membaca-baca teori dan melihat-lihat contoh gambarnya.
Akhirnya sampai sekarang, saya tak pandai menggambar.
Add comment Agustus 31, 2007
mengejar anak ayam
Semasa kecil, saya suka mengejar anak ayam. Anak ayam yang masih kecil, imut, dan lucu. Bulunya halus dan lembut. Ada yang putih, kuning, hitam.
Anak-anak ayam itu masih suka mengikuti induknya. Jadi kadang saya sengaja mengurung induknya supaya lebih mudah untuk mengejar anak-anaknya. Jahat ga sih?
Kalau berhasil menangkap anak ayam itu, senang rasanya. Biasanya anak ayam yang tertangkap akan saya beri makan beras yg lembut, saya elus-elus untuk beberapa saat, kemudian saya lepaskan lagi. Kalau terlalu lama terpisah dari induk dan saudara-saudaranya, kasihan.
Apa yang terjadi jika saya tidak mengurung si induk? Saya akan dikejar oleh induk ayam yang anaknya saya tangkap. Itu juga merupakan hal yang seru lho, dikejar induk ayam.
2 comments Agustus 20, 2007